Jumat, 10 Agustus 2012

Realistis Dan Para Pemimpi

Realistis, satu kata yang cukup gue gasuka saat gue lagi nyaman bersama mimpi-mimpi kosong gue. Bersikap realistis, menurut gue itu adalah sebuah sikap yang bisa menghancurkan para pemimpi ulung yang ada diluar sana termasuk gue dimana memang pada hakikat mereka dunia mimpi jauh lebih baik dan nyaman daripada kenyataan. Bagaimana tidak, sebagian besar pemimpi pasti mencicipi lebih banyak pahitnya dunia nyata daripada mencicipi manisnya. Sekalinya mendapat manis akan berakhir pahit dan juga bila mendapat pahit di awal di akhirpun akan mendapat pahit juga.

Fakta yang gue dapet, apa yang kita mimpikan bisa jauh berbeda dengan apa yang ada pada kenyataan.

Apa yang membuat para pemimpi menjauh dari kenyataan? dari dunia nyata? jawabanya sangat jelas. Ya, mereka merasa lelah dengan dunia konyol yang bisa di bolak-balikan oleh para manusia yang mempunyai kelebihan. Baik kelebihan harta, fisik, hingga intelejen tapi tidak termasuk kelebihan berat badan. 

Tiap hal pasti punya itu yang namanya kekurangan dan kelebihan termasuk sikap realistis ini dan menjadi pemimpi.

Bersikap realistis memiliki kekurangan, yaitu kita akan dibuat seakan menjadi seorang yang kaku akan sebuah pergaulan di dunia konyol ini dan yang paling parah kita bisa dibuat menjadi seorang yang sangat benci dengan mimpi-mimpi serta kita dibuat menjadi tak ingin mempunyai mimpi. Sisi baiknya adalah, kita akan mudah menghadapi kenyataan yang buruk sekalipun.

Sedangkan menjadi pemimpi memiliki kekurangan yaitu kita akan sulit menghadapi sebuah kenyataan buruk dan kita dibuat selalu mengandai-andai tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan baiknya adalah, kita akan menjadi orang yang cukup enak diajak bergaul serta dari mimpi kita memiliki tujuan-tujuan yang harus kita capai di dunia nyata.

Hidup itu pilihan, ga penting jadi pemimpi atau jadi realistis. Pada kenyataan, hidup kita sudah diatur dan pada akhirnya kita semua akan tinggal didalam tanah. Semua hanya masalah bagaimana kita menjalaninya.

Minggu, 05 Agustus 2012

Subuh Menjelang

Suara gemericik titik-titik air yang jatuh dari sebuah daun talas terdengar kecil ditepi sungai itu. Suara jangkrik dan beberapa dengkuran kecil dari rumah para warga pun ikut menghiasi paduan suara alam itu. Asap hitam tipis yang berasal dari sumbu lampu minyak yang dibakar, ikut bercampur dengan udara dingin yang sejuk di tiap-tiap rumah warga di desa ini.

Pak hansip yang senantiasa memiliki tugas mulia, sedang berkeliling bersama lampu senternya yang agak redup disaat orang-orang masih asik dengan ibadah dialam mimpi itu. Badrul yang tak bisa tidur sedari malam pun hanya bisa mendengarkan siaran radio yang suaranya tak jelas untuk didengar.

Jam pun akhirnya menunjukan pukul 4 pagi, beberapa penduduk desa ini sudah ada yang terbangun untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga mereka. Ada yang memilah beras, memanaskan tungku dan lainya. Waktu terus berlalu hingga akhirnya muadzin di sebuah langgar di desa itu menyerukan ajakan untuk sembahyang. Para warga desa pun berbondong-bondong menuju ke langgar itu. Tak satupun orang yang masih terlelap......